Rabu, 11 Juli 2018

Life is a riddle


Hidup ini penuh dengan teka-teki. Kita nggak bakal tau apa yang bakal terjadi kedepannya. Boleh jadi sekarang kita dipuja puja, dan boleh jadi selanjutnya kita bakal dibully mati matian.

Hidup emang susah ditebak.

Aku kagum ketika ada orang-orang yg masa bodoh dengan pendapat orang lain terhadapnya, tidak peduli terhadap omongan dan penilaian orang lain tentang dirinya, aku ingin seperti mereka.

Menjadi seseorang yg pemikir itu berat, pokoknya rindunya Dilan kalah deh, wkwk. Apa-apa nggak enakan, apa-apa mikir gimana kata orang, dan bla bla bla.

Hidup kadang serumit itu. Orang lain bahkan mampu ngerubah seseorang, ngerubah perilaku bahkan mindset mereka. Kalo ke arah yg positif sih alhamdulillah, tapi kalo sebaliknya ? Nggak banget ya kan.

Jadi intinya, semua hal yg sedang kita jalani cuma kita sendiri yg bisa ngehandel. Orang lain hanya bisa ngomong, tapi yg sedang jalanin itu kan kita sendiri.

Ehm, sebenernya itu challenge buat diri saya sendiri, gimana supaya saya bisa ngejalanin hidup tanpa menjadi gadis pemikir kelas berat. Gimana supaya saya bisa menjadi diri saya sendiri tanpa melihat ataupun mendengar penilaian orang lain tentang semua yg sedang saya jalanin.

Ohya, satu lagi. Aku juga ingin menjadi seseorang yg selalu bisa ikhlas terhadap apapun yg tengah dilewati. Baik dan buruk, suka dan duka, sedih ataupun bahagia semoga aku selalu mampu mengontol semua itu.

Semoga aku bisa menjadi seseorang yg tetap tenang ditengah tekanan hidup serta kekecewaan yg tengah menghampiri, semoga juga saya bisa menjadi pribadi yg tetap tenang meskipun sedang berada ditempat setinggi mungkin suatu saat nanti.

Karna hidup itu perlu dikontrol. Dan yang mampu mengontrol itu semua adalah diri kita sendiri, bukan orang lain.


Kamis, 12 Juli 2018--Mernawati

Rabu, 16 Mei 2018

OUR FIRST PROJECT (Goes To Bukit Merese)


Tahun ini adalah tahun ketiga kami menjadi Mahasiswa, sebelumnya belum ada kegiatan yang mampu membuat kami sebahagia kemarin. Melihat senyum mereka, melihat semangat mereka, melihat mereka bahagia saat menerima pemberian kami membuat kami ikut bahagia.

Hari ini, kegiatan kami adalah membagikan buku bacaan kepada anak-anak penjual gelang di Bukit Merese. Kami membagikannya bukan tanpa alasan, kami membagikannya karna kami merasa kami perlu mengenalkan mereka kepada jendela dunia yang akan mampu mengantarkan mereka ke mimpi-mimpi mereka.


Benar kata orang, bahagia itu sederhana dan yg menciptakan kebahagiaan itu adalah kita bukan orang lain.

Disini, di Bukit merese. Ketika orang-orang hanya datang untuk mengambil foto dan menikmati pemandangan indah, kami punya sisi lain yg tidak pernah orang lain pikirkan sebelumnya. Ya kami datang untuk mereka, untuk anak-anak luar biasa yang perlu kita semangati.



Tinggal jauh dari kota tidak membuat semangat mereka kalah dari anak kota yg setiap hari punya jadwal les privat, makan siang di mall dan makan malam di restaurant. Meski agak tertinggal tapi mereka tidak lupa untuk selalu ceria, mereka tetaplah anak kecil yg polos dan selalu punya rasa ingin tau yang tinggi.



Berprofesi sebagai penjual gelang membuat kami cukup kagum sama anak-anak disini. Mereka bahkan mampu mendapatkan uang diusia yg masih kecil. Kami bahkan malu untuk berjualan, tapi mereka tidak sama sekali. Mereka semangat berjualan dan menawarkannya ke beberapa wisatawan yg datang. Walaupun berjualan gelang, alhamdulillah mereka tetap sekolah, mereka ternyata mementingkan pendidikannya juga.



Kalo ini namanya Indra, dia yang paling kecil dan paling hitss dari yang lain. Melihat anak sekecil ini sudah berjualan rasanya bangga campur sedih juga. Lap ingus aja masih belom bisa ndra, hahaha.


Hari ini kami meminta mereka menuliskan cita-cita mereka diatas kertas. Cita-cita mereka keren-keren, ada yg mau jadi Dokter, Guru, Polisi, Pemadam kebakaran, dan lain-lain.



Aku kadang malu, aku bahkan tak mampu mengucapkan cita-citaku selantang mereka menyebutkan cita-citanya. Semangat mereka memang luar biasa.

Meski beberapa dari mereka belum ada yg terlalu pandai membaca, tapi kemauan mereka perlu diapresiasi. Mereka bahagia menerima buku dari kami, mereka bahagia ketika kami mengajarkan mereka  membaca, mereka bahagia ketika kami menyuruh mereka menuliskan cita cita mereka.



Kegiatan hari ini luar biasa, luar biasa membahagiakan, luar biasa capek juga. Tidak ada kegiatan yg sempurna, walaupun hari ini ada kerikil-kerikil yg mengganggu jalan kita, anggap saja itu semua adalah salah satu takdir Allah untuk membuat kita bisa belajar banyak hal dari situ. Karna kegiatan yg berjalan berantakan akan lebih baik dari yg berjalan sempurna. Dari kegiatan yang berantakan kita akan lebih banyak mengambil pembelajaran bukan kepuasan saja.



Bagi sebagian orang, kegiatan yg kami lakukan ini mungkin terlihat kecil dan tidak penting. Tidak, mereka salah. Kegiatan ini memang kecil, tapi perjuangan kami buat wujutin ini sangat besar.

Perjuangan untuk mengumpulkan dana untuk membeli buku bacaan yg kami bagikan tidak semudah yg mereka pikirkan. Kami sebenarnya bisa saja meminta uang kepada orang tua kami, kepada keluarga ataupun berdiri memegang kotak diperempatan lampu merah.

Tapi aku tau. Teman-temanku kuat, mereka tak segampang itu meminta, dan aku yakin kami mampu mendampatkan dana tanpa harus meminta seperti itu.

Dan, itupun berhasil. Kami mampu mengumpulkan dana untuk membeli buku yg kami dapatkan dari menjual mawar. Alhamdulillah, temen-temen selalu membantu untuk menjualnya, selain itu ada juga yg berusaha membeli walaupun tidak suka, walaupun mawarnya sudah mau layu, mereka tetap membeli.

Terimakasih semua, semoga kita mampu menjadi manusia-manusia yg bisa bermanfaat bagi orang lain, dan tanpa kalian kegiatan ini bukanlah apa-apa.



Senin, 09 April 2018

Di Suatu Tempat Di Sudut Kota


Aku berjalan ditengah kota tua yg sunyi. Kota dengan penduduk yg cukup banyak tetapi minim komunikasi.

Aku mencoba mengelilingi setiap sudut tempat ini. Melihat wajah-wajah berbeda, mengamati kehidupan, ketidakadilan serta kesenjangan yg sspertinya sudah mendarah daging bagi orang-orang kota.

Terkadang aku mikir, ketika aku mengeluhkan tentang makananku yg tidak enak, betapa banyak mereka diluar sana yg hanya bisa menelan air ludah ketika menginginkan sesuatu.

Saat aku mendambakan ponsel bagus keluaran terbaru, diluar sana masih banyak mereka yg belum mengenal teknologi. Tidak punya ponsel, padahal  rasa rindu terhadap keluarga yg jauh disana sudah tak terbendung lagi.

Saat aku merasa kecewa karna berada jauh dari orang tua dan keluarga, aku tau diluar sana banyak sekali mereka yg hidupnya sebatang kara, tidak punya tempat tinggal maupun seseorang yg dijadikan sebagai tempat untuk mengadu keluh kesah.

Sangat banyak diluar sana yg hidupnya tidak lebih baik dari hidup kita. Mereka perlu pengorbanan yg luar biasa besar  hanya untuk mendapatkan sesuatu yg menurut kita kecil.

Semua ini membuatku rindu akan tanah kelahiranku. Tempat yg dipenuhi oleh orang-orang yg saling peduli satu sama lain, tempat dimana kesenjangan sangat jarang sekali kutemui.


Disuatu tempat disudut kota ini, aku banyak memahami betapa hidup kita jauh lebih baik dari mereka. Botol minuman yg kita buang begitu saja adalah kebahagiaan bagi mereka, mereka mengumpulkan hal-hal yg kita buang untuk ditukar dengan uang yg akan digunakan untuk kebutuhan keluarga.

Sungguh miris. Tapi mau bagaimana lagi, hidup ya hidup harus tetap berjalan meski tak sesuai sama apa yg kita mau. Kita kadang mikir, apakah mereka bisa hidup ditengah keterbatasan seperti itu, tapi yakinlah, Allah akan selalu mencukupkan kebutuhan kita.

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. [Ath-Thalaq : 3]

Kuncinya adalah tawakal. Semoga kita semua senantiasa bertawakal kepadaNya. Amiiin 

Jumat, 06 April 2018

You Have A Dream | A Big Dream


Bagi kalian yg udah sering liat postingan saya tentang 2 anak kecil ini, pasti bakalan bosan dan mikir kalo saya itu sok suka sama kecil dan sok peduli sama mereka.

Itu nggak salah. Kalo kalian belum kenal saya, sangat wajar kalian mikir kayak gitu, dan saya akan berusaha memahami semua itu.

Tapi, ini bukan masalah sok peduli ato apa. Kita wajar peduli sama mereka, kita wajar pengen tau apa mimpi mereka, kita wajar membantu mereka untuk menemukan hal-hal baru yg belum pernah mereka lihat dan rasakan.


Saya menulis ini dengan perasaan saya yg sangat mendalam sama anak-anak disana. Perasaan yg sangat ingin melihat mereka bahagia disaat mereka sudah seumurku nanti.

Banyak hal yg saya takuti. Saya takut mereka akan menganggap jualan gelang adalah zona nyaman mereka. Saya takut jika suatu saat mereka tidak bisa keluar dari zona itu dan tidak mementingkan pendidikan mereka lagi.

Sekarang, mari kita berpikir bagaimana kedepannya. Mereka ini adalah calon pemimpin masa depan, mereka adalah anak anak yg akan tumbuh dewasa. Apa iya selamanya harus jualan gelang ?


Saya nggak tau persis bagaimana awalnya mereka bisa jualan gelang kayak gini. Tapi saya yakin mereka adalah anak anak dari orang tua yang waktu kecilnya berprofesi sebagai penjual gelang juga.

Jadi, secara tidak langsung suatu saat mereka akan seperti itu juga. Ketika mereka dewasa, menikah dan punya anak, anak anaknya pun bakal jadi seperti itu juga dan terus bersiklus seperti itu.

Hah, rada kesel juga kalo di pikirin terus. Kenapa kita terus tertinggal ditengah dunia yg berlomba-lomba untuk maju seperti sekarang ini ?

Hidup itu sebenernya pilihan, dan saya tau mereka tidak punya pilihan lain selain menjalani profesi itu.

Tapi, disetiap pilihan akan selalu ada jalan bagi yg ingin berusaha. Bukankah Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah nasibnya sendiri ?


Saya yakin, mereka punya mimpi besar. Mereka punya cita cita, mereka punya impian dan mereka pasti ingin menjadi orang besar juga.

Tapi, gimana caranya biar semua itu jadi nyata ?

Impian itu, selain adanya dorongan yg kuat dari diri sendiri harus ada juga dorongan dari orang tua dan keluarga. Tanpa dukungan dari orang-orang terdekat saya yakin impian dan semua mimpi besar itu hanya akan jadi debu dalam otak mereka.

So, are you ready to help them ??

Sabtu, 17 Maret 2018

Brainware


Malam ini, aku terbaring sambil menatap atap kamar kosku yg penuh dengan origami burung yg aku buat 2 thn lalu.

Ah, ternyata tahun ini bakal menjadi tahun ketigaku dikota rantauan. Aku kaget, tapi setelah itu aku akhirnya merasa biasa aja. Haha

Hari ini aku merasa masih sama dengan hari-hari sebelumnya. Aku masih tetap menjadi gadis pemikir kelas berat.

Otak ku rasanya udah penuh sama pikiran-pikiran luar biasa yg belum pernah sempat aku wujudkan.

Dan tanpa aku sadari, ide-ide luar biasa itu kini dipenuhi sama sarang laba-laba didalam otak saya. Berdebu dan kotor.

Sepertinya aku perlu merapikan kembali ide-ide ini, secepatnya aku mesti bersihin debu-debu yg menempel didalamnya. Agar ide ini bisa keluar dan secepatnya aku realisasiin.

Aku kadang-kadang bingung sama kehidupan ku yang nggak pernah memiliki kompas. Semuanya berjalan begitu saja, tanpa arah.

Tapi aku sangat menikmati itu semua. Hidup rasanya lebih ringan dan aku nggak perlu khawatir bagian mana yg harus aku kerjakan selanjutnya

Jumat, 09 Maret 2018

Hidup Adalah Tentang Bersyukur


Hidup itu singkat. Semua hal yg sedang kita perjuangkan sekarang hanyalah sementara. Kita nggak bakal tau sampe kapan kita ada didunia ini.

Meski hidup kita cuman sementara, kita kadang lupa buat selalu bersyukur sama kehidupan yg sedang kita jalani.

Jika kita hidup hanya bisa membandingkan kehidupan kita dengan orang yang lebih mampu dari kita, lantas apakah itu kehidupan yg kau bilang bahagia ?

Tidak. Hidup itu bukan tentang membandingkan. Kita kadang lupa, bahwa ternyata masih banyak orang tidak lebih beruntung dari kita.

Bahkan banyak dari mereka yg hanya mampu bertahan dalam keterbatasan.

Kita selalu lupa untuk bersyukur. Kita selalu sering merasa kurang dalam setiap hal dan selalu membandingkan diri kita dengan orang lain.

Kehidupan ini sungguh kejam jika kita selalu memikirkan hal-hal semacam itu.

Hidup ini akan indah jika disyukuri. Allah tidak akan memberi kita cobaan diluar kemampuan kita. Tidakkah kau percaya ?

Hari ini, ada kejadian yg bikina aku sadar betapa Allah memberikan kehidupan yang luar biasa buatku.

Meski hidupku jauh dari kemewahan tapi setidaknya kehidupanku masih lebih baik dari mereka.

So, which of the favors of your lord would you deny ? (Q.S. Ar. Rahman 13)

Mulai sekarang lihatlah mereka yg dibawah kita. Untuk makan saja mereka harus banting tulang siang malam. 

Mereka bahkan tidak pernah mengeluh. Lantas pantaskah kita mengeluh ?


Don't Compare Yourself To Others


Tulisan ini aku dedikasiin buat diriku sendiri. Supaya aku bisa hidup tanpa harus sibuk membandingkan diriku dengan orang lain.

Selama ini, aku merasa bahwa hidupku biasa aja. Beda kayak mereka yg hidupnya luar biasa.

Diumurku yg udah memasuki kepala dua seperti sekarang, mestinya aku sudah bisa memenuhi kebutuhanku sendiri tanpa harus meminta lagi dari orang tua.

Tapi, beginilah hidup. Aku nggak tau bakal gimana kita kedepannya dan bakal jadi apa. Daun yg jatuh aja udah diatur begitupun dengan kehidupan kita kan ?

Kadang-kadang aku suka mikir, kenapa kita suka membandingkan diri kita dengan orang lain ? Padahal kita semua sama.

Sama-sama bernapas, sama-sama makan nasi, sama-sama berpijak disatu tanah, sama-sama menghirup udara yg sama dan sebagainya.

Hidup itu ribet, dan kita sendiri lah yg bikin hidup itu ribet.

Emang kita semua harus sama ya ? Enggak kan ?

Hei, keep think positive. Kamu gk harus sama dengan yg lain. Kita punya cara masing-masing untuk meraih apa yg kita inginkan.

Semua org punya takdir masing-masing bukan ? dan tentu saja masing-masing orang mempunyai jalannya sendiri untuk sukses.

Nggak usah banyak nuntut, terus saja berusaha, insya Allah jalan pasti ada..